Iseng-iseng saya baca sebuah catatan kecil di FB. Isinya bener2 bagus, dan menghibur yaitu tentang peninggalan 300 tahun lalu, sebuah karya seni pahat dan puisi dalam sebutir batu seukuran biji kenari. Saya selalu kagum bagaimana seorang penulis bisa membuat karya yg begitu bagus, rapih, menghibur dan terperinci. Yang jelas catatan yg saya baca bener2 karya yg serius (menurut ukuran saya) bayangkan urutan peristiwa dgn tanggal, bulan dan tahun, nama tokoh, nama tempat, korelasi peristiwa dan lain2. Yang paling mencengangkan justru ketika si penulis membuat catatan kaki : "Saya buta huruf kanji dan bahasa mandarin, karena itu puisi di atas saya terjemahkan huruf demi huruf dengan bantuan bla.. bla..bla"
Wow.. bener2 niat banget.
Jadi inget dulu waktu masih muda *mode sok tua: on : )* saya emang suka baca buku. Buat saya kenikmatan membaca bukan sekedar mencerna isi yang dibaca tapi proses membaca itu sendiri bener2 saat berkesan dan menyenangkan buat saya. Duduk santai, merasakan tekstur kertas lembar demi lembar, diiringi latar belakang musik atau sunyi senyapnya malam, kadang2 ditemani secangkir coklat panas atau teh manis hangat. Hmm, saya bener2 merindukan momen2 itu.
Sekarang masa yg berbeda, membaca buku bisa menggunakan buku elektronik. Di awal booming e-book saya juga sempet mengunduh beberapa. Tapi sensasinya berbeda sama sekali dengan membaca buku asli. Jadi saya sedikit kurang tertarik membaca e-book ( mungkin belum menemukan cara yang nikmat membaca e-book) Buku terakhir yg saya baca mungkin sekitar tahun 2006 (wooow 5 tahun yg lalu !!) judulnya Samurai: Kastil Awan burung gereja (Kalo gak salah inget). Isinya cerita fiksi (saya kira) dengan latar belakang sejarah kerajaan Jepang dengan tokoh utama bernama Lady Shizuka (soalnya yg saya inget tentang novel ini tokoh yg satu ini- cmiiw). Ya, saya masih inget momen saat membaca novel yang satu ini, aroma teh hijau yg kental, suasana ruangannya, latar belakang musiknya (kebetulan waktu itu saya lagi senang lagu-nya Kokia).
Nah kalo masalah menulis dulu semenjak seumuran SMP saya suka membuat catatan2 (komentar, khayalan, ide2 gila, atau emosi yg tidak tersalurkan) sampai habis 2 buah buku besar sampai masa2 awal kuliah. Menulis juga ( dengan cara yg tradisional-pulpen diatas kertas) buat saya menghadirkan kepuasan tersendiri. Menulis bisa jadi media utk berbicara dengan diri sendiri, melihat diri sendiri dari sudut pandang yg berbeda, catatan momen penting dan ingatan2 yg ingin dikeluarkan dari benak saya tapi enggan untuk dihapus dari sejarah perjalanan hidup saya dan lain2. Guratan diatas kertas juga menyimpan arti tersendiri. Kadang beberapa waktu setelah tulisan itu dibuat saya sering mengamati guratan yang dalam dengan tulisan besar- lalu saya jadi teringat betapa marahnya saya ketika menulis catatan itu, atau sebaliknya tulisan yg mengambang dengan tinta yang semakin pudar- kalau ini menggambarkan betapa putus asa-nya saya waktu itu/ atau betapa malesnya saya sampai gak mau ganti pulpen yg mau habis tintanya : ).
Lagi2 jaman berubah, sekarang mungkin bukan menulis tapi kata yg tepat adalah mengetik. Sensasinya juga jauh berbeda jadi mungkin sampai waktu yg agak lama saya belum bisa menikmati proses menulis seperti dulu lagi. Tapi hebatnya jaman sekarang kita bisa berbagi dengan buannyak orang, entah itu yg peduli atau senasib sepenanggungan. Dan yg menarik buat saya, karya kita bisa disimpan dalam waktu yg lama - mungkin lebih dari 300 tahun : ) . Yah mungkin semenjak saat ini saya coba menggali ingatan akan nikmatnya proses membaca dan menulis. Semoga.
