Beberapa minggu yg lalu saya tiba2 tertarik membaca tulisan seorang kawan di FB. Gak disangka ternyata tulisan dia bagus (maksudnya saya kok bisa2nya punya kawan seorang penulis tapi saya gak menyadarinya!). Selanjutnya saya mulai baca lagi tulisan beliau yg lain di media lain namanya Kompasiana.
Konon kompasiana dimaksudkan untuk menarik masyarakat agar berkontribusi aktif terhadap proses pemberitaan (baca: jurnalisme) dengan sukarela. Tidak hanya berita aktual, kompasioner (istilah para penulis di kompasiana) boleh juga menulis opini dan juga cerita fiksi. Dan bagusnya lagi setiap artikel dipisahkan per tema jadi ada tema politik, budaya, olah raga, hobi dan lain lain (saya gak hapal semuanya). Intinya menurut saya semuanya sudah tertata rapi, dan saya suka ide kontribusi masyarakat tersebut. Jadi setelah sekilas melihat web-nya, saya yg awalnya hanya ingin melihat tulisan kawan saya itu, akhirnya memutuskan untuk bergabung menjadi kompasioner. Berikutnya saya langsung masuk ke dalam "dunia baru" tersebut dan mulailah perjalanan saya.
Kesan pertama
Wah! Ternyata di negeri ini banyak sekali orang2 cerdas. Cerdas pemikirannya, cerdas menyampaikan pendapat, cerdas menulis, cerdas mengkritik dan lain sebagainya. Saya gak mengenal kepribadian mereka di dunia nyata, jadi mungkin ada orang yang hobi berat, ada juga profesional berat, ada juga yg hobi ringan dan tentu ada juga yg amatir menuju profesional. Kesimpulan kesan pertama: Sangat2 terkesan dan tiba2 merasa kecil dan gak sebanding dgn yang lain.
Kesan berikutnya
Dari pengalaman pandangan pertama, saya merasa ada di belantara dunia tulis-menulis. Saya banyak terkesan dengan tulisan2 yg panjang, mengupas mendalam, rinci dan ini dia yang paling membuat saya minder: banyak istilah2 yang saya tidak mengerti! :)
Berikutnya selain tulisan saya melihat komunikasi antar kompasioner. Beberapa artikel menarik menimbulkan komunikasi yang super ramai antar penulis dengan komentator atau pembacanya. Menurut saya hal ini menarik karena ada perbedaan kontras yang saya lihat dibandingkan dengan kehidupan nyata (setidaknya menurut dunia nyata versi saya), yaitu budaya kritik mengkritik dan blak-blakan. Kesimpulan kesan berikutnya: Mereka orang2 yg cerdas tersebut semakin membuat saya terkagum2 karena ternyata terbiasa utk menerima dan memberikan kritik dan itu dilakukan terbuka. Sekali lagi salut!
Pertanyaan berikutnya : Apa gunanya Kompasiana bagi saya?
Paling tidak hal yang benar2 "menonjok" saya adalah fakta bahwa di negeri ini lebih banyak sekali orang yang lebih cerdas dari saya (karena dulu saya kuper, ego merasa diri yang paling hebat dan paling pinter/cerdas kerap hinggap di hati saya, ck ck ck). Jadi saya merasa bersyukur bisa "bertemu" dgn kompasioner2 dan yg lebih menyenangkan ternyata banyak juga orang2 dengan ide2 briliant berkumpul disitu. Saya jadi lebih termotifasi lagi supaya lebih rendah hati, lebih terbuka dan lebih berani mengutarakan ide2 tentang apa saja. Sekali lagi trims utk Kompasiana dan kompasioner2 yang inspriatif. Bravo!
