Search This Blog

Just like others ordinary-old fashion blogs

Sunday, May 15, 2011

Pregnancy : What's on Week 27th?

Malam ini malam ke-3 di rumah sakit jagain istri yg masih dirawat. Belum ada keputusan dari dokter kapan istri saya boleh pulang, walaupun udah gak betah tetapi apa boleh buat harus sabar. Jadi kejadiannya mulai dari malam minggu yg lalu tanggal 30 april 2011, sehabis makan malam di Kemiri, Penville istri saya kaget ternyata ada bercak darah di celananya seperti sedang haid. Kami rada shock lalu segera pulang, sampai di rumah kami cek lagi ternyata sudah berhenti. Hanya ada bercak coklat sedikit, sampai pagi saya terus jaga istri dan cek setiap kali buang air kecil.
Pagi hari, kami langsung berangkat ke rumah sakit terdekat di pondok labu yg kebetulan ada dokter kandungannya. Kira2 jam 11 siang kami baru bisa ketemu dokter dan langsung diperiksa USG. Dokternya sudah senior dan murah senyum jadi sedikit melegakan saya yg sejak sehari sebelumnya khawatir.
“Jadi begitu dok, kejadiannya seperti itu. Kenapa ya bisa begitu?”, tanya saya setelah panjang lebar menceritakan kronologis kejadiannya.
“Perutnya kenceng? Kalo ya berarti ada kontraksi!”, jawab dokter
“Emang kalo kontraksi gak boleh?”, kali ini istri saya yg bertanya.
“Pada dasarnya pendarahan di masa kehamilan pasti karena ada abnormality, jadi kontraksi bisa juga menyebabkan pendarahan”, jawab dokter sambil senyum.
“Coba saya USG dulu ya..”, kata dokter.
“Sus, tolong siapkan USG-nya ya!”
“Sudah siap dok!”, kata suster.
“Kamu emang malaikat saya!”, kata dokter lagi sambil senyum (saya gak ngerti kenapa harus menuliskan kalimat ini??)
“Oooh,   mmh... nah ini dia!”
“Kenapa dok?”, tanya saya penasaran.
“Lihat... ini tali ari2 bayi, jadi sebelah sini plasenta. Sebelah sini jalan lahir!”
“Kepala bayi masih diatas.”, kata dokter (so what? Tanya saya dalam hati – masih gak ngerti maksudnya)
“Hmm, karena plasenta nutup jalan lahir, jadi kalo ada kontraksi bisa terjadi pendarahan”
“Tapi istri saya gak merasakan sakit dok, waktu terjadi pendarahan itu”, tambah saya.
(belakangan saya cari di internet kondisi isteri saya disebut plasenta previa, sebagian ada yg menutup penuh, ada menutup sebagian ada menutup seujung atau plasenta letak rendah. Salah satu gejalanya adalah pendarahan yg tidak disertai rasa sakit atau nyeri)
“Ya,  tapi kontraksinya terasa kan?”
“Sekarang begini aja, saya beri obat pengurang kontraksi ya!”
“Lalu vitaminnya gimana? Sekarang minum apa?”
“Elkana sama zat besi aja dok, soalnya kebetulan obat sebelumnya sudah habis”, kata istri saya.
“Ya udah saya kasih yg super lengkap ya. Vitamin juga, mineral juga, logam juga, selain besi saya kasih seng juga ya! Jadi gak usah ngemil potongan seng..”, kata dokter terkekeh-kekeh.
“Jadi gak apa-apa dok?”, tanya saya penasaran.
“Kalo kontraksi lagi minum obat yg saya kasih, supaya reda kontraksinya. Terus posisi ibu duduk dan tarik napas tenang!”
“Oooh, begitu ya..”, kata saya (Lega juga soalnya ternyata tidak “seseram” yg saya bayangkan sebelumnya)
Lalu selesailah kunjungan kami hari itu. Kami pulang dengan hati senang dan lega.
Senin siang tanggal 2 Mei 2011.
Istri saya makan siang dulu sebelum berangkat ngajar, waktu kira-kira jam 11 siang. Selesai makan istri saya ngerasa kenceng perutnya, tapi dipikirnya itu karena makannya banyak n kekenyangan. Setalah makan obat dari dokter, maka berjalanlah istri saya dengan sangat hati2 dan super pelan. Sesampai di kantor di lantai 2 istri saya langsung melanjutkan aktifitasnya dilantai yg sama, kesana-kesini-kesitu-kesono. Lalu turun ke lantai 0, naik lagi ke lantai 2 nah di saat itulah istri saya merasakan sakit di perut bagian bawahnya.
Akhirnya hal itu terjadi juga, istri saya pendarahan. Kaget melihat ada keluar darah saat BAK, istri saya langsung menelepon saya. Tentu saya langsung kaget, saya minta istri saya cepat2 pulang sementara saya segera mengebut membereskan pekerjaan saya. Tepat jam 12.40 siang saya baru bisa keluar dari tempat kerja, lumayan menunggu bis ke Jakarta jam 13.00 agak lama. Jam 13.15 bis berangkat menuju Blok M, Jakarta. Sampai bis berangkat saya terus kontak istri saya menanyakan kondisi terakhir. Saya terngiang2 kata2 plasenta solutio, astagfirullah! Rupanya pendarahan hanya sesaat saja, tetapi mendengar istri menangis perasaan saya jadi gak karuan.
Jam 18.30, sampai ke RS, rupanya dokter yg biasa kita temui hanya sampai jam 19.00. Alhasil kita jadi pasien terakhir, saya terkejut melihat reaksi dokter yg nota bene jauh lebih muda daripada dokter kemarin yg saya temui.
“Ibu, harus istirahat ya. Langsung dirawat, malam ini kita monitoring 24 jam!”, seru dokter
“Pendarahan selama kehamilan gak boleh terjadi, artinya kalau ada berarti ada sesuatu yg abnormal”, katanya lagi.
“Nah, tadi sudah dilihat kan USG-nya? Kondisi ibu disebut plasenta previa alias plasenta di bawah menutup jalan lahir.”, dokter menjelaskan panjang lebar.
“Masya Allah! Ada apa lagi ini?”, ucap saya dalam hati
Pikiran langsung kalau, hati saya langsung gamang. Jantung berdenyut keras. Tapi saya harus tetap terlihat tegar di depan istri saya. Dengan susah payah saya berusaha menyembunyikan ke khawatiran saya, mencoba berekspresi setenang mungkin, mencoba untuk tersenyum.
“Hmm, jadi malem ini kamu istirahat di sini ya dek! Gak pa2 kan? Biar sakitnya cepet hilang ya!”, ucap saya sambil mengelus menenangkan istri.
“Ya ampun. Saya harus bagaimana? ”, ucap hati saya panik.

(Apa yg terjadi selanjutnya? Kita nantikan postingan saya berikutnya)